Jigokudani Onsen: Berendam di Pemandian Air Panas Bersama Kera Salju
Di lembah pegunungan Prefektur Nagano, Jepang, terdapat sebuah kawasan yang terkenal karena pemandangan kera Jepang yang turun ke sumber air panas ketika suhu udara menjadi sangat dingin. Fenomena tersebut membuat tempat ini berbeda dari kebanyakan tujuan wisata pemandian air panas di Jepang. Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati suasana pegunungan, tetapi juga menyaksikan perilaku alami satwa liar dari jarak yang relatif dekat. Jigokudani menjadi salah satu destinasi unik di Jepang karena pengunjung dapat melihat kera Jepang menikmati sumber air panas saat musim dingin.
Kawasan tersebut berada di Jigokudani, bagian dari Taman Nasional Joshin’etsukogen. Nama Jigokudani secara harfiah berkaitan dengan gambaran “lembah neraka”, sebuah sebutan yang merujuk pada kondisi alamnya yang dipenuhi uap, mata air panas, tebing berbatu, dan aktivitas geotermal. Namun, pada musim dingin, pemandangan kawasan ini justru berubah menjadi sangat khas karena salju tebal menyelimuti pepohonan dan lereng gunung.
Mengapa Jigokudani Onsen: Berendam di Pemandian Air Panas Bersama Kera Salju begitu terkenal?
Hal yang membuat kawasan ini terkenal bukan semata-mata sumber air panasnya. Daya tarik utamanya adalah kera Jepang atau Japanese macaque yang sering terlihat berada di sekitar sumber air panas, terutama ketika cuaca sangat dingin. Satwa tersebut dikenal mampu hidup di wilayah dengan musim dingin yang keras dan menjadi salah satu primata nonmanusia yang memiliki wilayah persebaran paling utara.
Kera-kera itu tidak datang karena pertunjukan yang dibuat untuk wisatawan. Mereka merupakan satwa liar yang hidup di kawasan tersebut. Ketika musim dingin tiba, suhu rendah dan salju membuat sumber air panas menjadi tempat yang menarik bagi sebagian kelompok kera untuk menghangatkan tubuh. Karena itulah, keberadaan mereka menjadi bagian dari fenomena alam yang membuat Jigokudani dikenal luas.
Lokasi Jigokudani di Pegunungan Nagano
Jigokudani berada di wilayah utara Prefektur Nagano, tidak terlalu jauh dari kota Yamanouchi. Kawasan ini terletak di pegunungan dan memiliki lingkungan yang jauh berbeda dari pusat kota Nagano. Hutan, lembah, sungai, tebing, serta salju menjadi bagian dari lanskapnya.
Salah satu kawasan yang paling dikenal wisatawan adalah Jigokudani Yaen-Koen, atau Jigokudani Monkey Park. Taman ini didirikan untuk memungkinkan pengunjung mengamati kera Jepang dalam habitat alaminya tanpa harus membawa satwa tersebut ke dalam kandang seperti kebun binatang tradisional.
Jigokudani Onsen: Perjalanan Menuju Kawasan Kera Jepang
Perjalanan menuju taman tidak berhenti begitu kendaraan mencapai area parkir. Pengunjung masih harus berjalan melewati jalur menuju kawasan pengamatan. Jalur tersebut berada di lingkungan hutan sehingga suasananya terasa berbeda dari objek wisata perkotaan di Jepang.
Pada musim dingin, perjalanan bisa menjadi lebih menantang. Salju dan es dapat membuat permukaan jalan licin, sementara suhu di kawasan pegunungan jauh lebih rendah daripada di kota. Karena itu, alas kaki yang memiliki daya cengkeram baik sangat membantu. Pakaian hangat juga penting, terutama bagi pengunjung yang berencana menghabiskan waktu cukup lama untuk mengamati satwa.
Kera Jepang yang Sering Disebut Kera Salju
Kera Jepang merupakan spesies yang secara ilmiah dikenal sebagai Macaca fuscata. Satwa ini memiliki wajah merah muda hingga kemerahan dan tubuh yang ditutupi bulu tebal. Warna serta ketebalan bulunya membantu mereka menghadapi kondisi lingkungan yang dingin.
Istilah “kera salju” muncul karena populasi kera Jepang di wilayah utara memang terkenal mampu bertahan di lingkungan bersalju. Namun, mereka bukan spesies yang secara khusus hanya hidup di salju. Persebarannya mencakup berbagai wilayah Jepang dengan kondisi lingkungan yang berbeda.
Jigokudani Onsen: Mengapa Kera Jepang Masuk ke Air Panas?
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah alasan satwa tersebut mau berada di air panas. Jawabannya berkaitan dengan suhu lingkungan. Pada musim dingin, temperatur udara di kawasan pegunungan dapat turun sangat rendah. Air hangat memberikan kesempatan bagi tubuh mereka untuk mendapatkan kondisi yang lebih nyaman.
Perilaku ini terutama terlihat pada kelompok tertentu di Jigokudani. Tidak semua kera Jepang di Jepang melakukan kebiasaan yang sama. Dengan demikian, keberadaan kera di kolam air panas lebih tepat dipahami sebagai perilaku khas populasi yang hidup di kawasan tersebut, bukan karakteristik universal seluruh spesies.
Sejarah Kemunculan Kera di Sumber Air Panas
Hubungan antara kera Jepang dan sumber air panas di Jigokudani memiliki sejarah yang cukup panjang. Kawasan tersebut mulai dikenal sebagai tempat pengamatan satwa setelah pengelolaan taman dilakukan untuk melindungi sekaligus memantau populasi kera Jepang.
Pada masa lalu, kera di wilayah tersebut juga berinteraksi dengan lingkungan manusia. Aktivitas manusia di sekitar kawasan pegunungan membuat satwa semakin sering berada di dekat sumber makanan. Seiring perkembangan pengelolaan taman, perhatian kemudian diarahkan pada pengamatan satwa secara lebih teratur.
Sumber air panas akhirnya menjadi salah satu ciri paling terkenal dari kawasan tersebut. Foto kera yang duduk tenang di tengah kepulan uap, sementara salju menutupi sekelilingnya, kemudian menjadi gambaran yang sangat identik dengan Jigokudani.
Jigokudani Onsen: Kolam Air Panas Bukan Tempat Berendam Pengunjung
Ada satu hal penting yang sering disalahpahami wisatawan. Kolam yang digunakan kera Jepang untuk berendam bukanlah kolam pemandian umum untuk manusia. Pengunjung datang ke kawasan tersebut untuk mengamati satwa, bukan ikut masuk ke kolam yang digunakan kera.
Pemandian air panas untuk manusia tersedia di kawasan sekitar Yamanouchi dan Shibu Onsen. Jadi, pengalaman mengamati kera dapat dipisahkan dari pengalaman mandi air panas tradisional Jepang. Setelah mengunjungi taman, wisatawan dapat menikmati pemandian umum atau penginapan bergaya Jepang di wilayah sekitar.
Shibu Onsen dan Tradisi Pemandian Air Panas
Shibu Onsen merupakan salah satu kawasan pemandian air panas yang terkenal di sekitar Jigokudani. Wilayah ini memiliki sejarah panjang sebagai kawasan penginapan dan pemandian. Jalan-jalannya dipenuhi bangunan tradisional, penginapan Jepang, serta fasilitas pemandian yang memberikan suasana berbeda dari kota modern.
Bagi wisatawan, kombinasi antara kunjungan ke taman kera dan pengalaman mandi air panas di kawasan sekitar menjadi pilihan yang menarik. Pagi hari dapat digunakan untuk mengamati satwa, kemudian sore atau malamnya dihabiskan untuk beristirahat di penginapan dan menikmati air panas.
Jigokudani Onsen: Musim Dingin Menjadi Waktu yang Paling Ikonik
Pemandangan paling terkenal biasanya muncul pada musim dingin. Salju yang menutupi pepohonan dan tanah menciptakan kontras dengan warna tubuh kera serta uap dari air panas. Karena itu, banyak foto kawasan ini menampilkan kera yang berada di dalam kolam sementara salju turun di sekitarnya.
Meski demikian, musim dingin bukan satu-satunya waktu untuk mengunjungi kawasan tersebut. Kera tetap dapat terlihat pada musim lain. Hanya saja, jumlah satwa yang masuk ke sumber air panas dan kondisi pemandangan dapat berbeda. Pada cuaca yang lebih hangat, alasan bagi kera untuk menghabiskan waktu di air panas tentu tidak sebesar ketika musim dingin.
Apa yang Bisa Dilihat Selain Kera?
Kunjungan ke Jigokudani tidak hanya berkaitan dengan mencari satu foto kera yang sedang berendam. Lingkungan di sekitarnya merupakan kawasan hutan pegunungan yang memiliki karakter tersendiri. Jalur menuju taman juga memberikan pengalaman berjalan kaki di tengah pepohonan dan udara pegunungan.
Selain itu, aktivitas kera cukup beragam. Mereka dapat terlihat berjalan, mencari makanan, membersihkan tubuh, berinteraksi dengan anggota kelompok, atau sekadar beristirahat. Karena merupakan satwa liar, perilakunya tidak dapat diprediksi seperti pertunjukan yang memiliki jadwal tertentu.
Jigokudani Onsen: Kehidupan Sosial Kera Jepang
Kera Jepang hidup dalam kelompok sosial. Di dalam kelompok tersebut terdapat struktur hubungan yang kompleks. Individu saling berinteraksi melalui berbagai perilaku, termasuk perawatan tubuh atau grooming.
Grooming bukan hanya berfungsi untuk membersihkan bulu. Aktivitas tersebut juga berperan dalam hubungan sosial. Kera dapat menghabiskan waktu saling membersihkan bagian tubuh tertentu, sehingga interaksi yang terlihat sederhana sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan kelompok mereka.
Anak Kera Menjadi Pemandangan yang Menarik
Pada periode tertentu, pengunjung dapat melihat anak kera berada di dekat induknya. Anak kera memiliki ukuran tubuh jauh lebih kecil dan sering terlihat menempel atau berada dekat dengan individu dewasa.
Namun, wisatawan tetap harus menjaga jarak dan tidak mencoba mendekati anak kera. Kedekatan manusia dapat membuat satwa merasa terganggu, terlebih ketika induknya sedang berada di sekitar. Mengamati dari jarak aman jauh lebih baik daripada berusaha mendapatkan foto dari posisi terlalu dekat.
Jigokudani Onsen: Aturan Penting Saat Mengamati Satwa
Jigokudani merupakan tempat untuk mengamati satwa, bukan lokasi untuk berinteraksi langsung dengan mereka. Karena itu, terdapat aturan yang perlu dipatuhi pengunjung. Kera tidak boleh disentuh, dikejar, dipancing untuk mendekat, atau diberi makanan oleh wisatawan.
Makanan manusia juga sebaiknya tidak dikeluarkan di sekitar satwa. Kebiasaan memberi makan dapat mengubah perilaku alami dan meningkatkan risiko konflik antara manusia dan hewan. Selain itu, kamera dan telepon sebaiknya digunakan tanpa membuat gerakan mendadak yang mengganggu kera.
Jangan Menganggap Kera sebagai Hewan Peliharaan
Kera yang terlihat tenang di dalam air panas bukan berarti mereka jinak. Mereka tetap merupakan satwa liar dengan perilaku dan respons yang tidak selalu dapat diprediksi. Individu tertentu dapat menjadi agresif apabila merasa terancam, terutama ketika manusia terlalu dekat.
Karena itu, wisatawan sebaiknya tidak menghalangi jalur kera, menatapnya secara agresif, menyentuhnya, atau mencoba berfoto sambil mendekatkan wajah. Sikap sederhana seperti memberi ruang sudah cukup untuk membuat pengamatan berlangsung lebih aman.
Jigokudani Onsen: Fotografi di Kawasan Jigokudani
Jigokudani merupakan lokasi yang sangat menarik bagi fotografer karena kondisi lingkungannya berubah secara alami. Uap air panas, salju, pepohonan, dan kera menciptakan komposisi yang berbeda hampir setiap saat.
Akan tetapi, mendapatkan foto yang bagus tidak harus dilakukan dengan mendekati satwa. Lensa dengan jangkauan yang cukup memungkinkan pengunjung mengambil gambar dari jarak aman. Selain itu, kesabaran biasanya lebih berguna daripada mengejar kera dari satu tempat ke tempat lain.
Kondisi Cuaca Bisa Mengubah Pengalaman
Cuaca pegunungan merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Hujan salju, suhu rendah, es, dan kondisi jalur dapat memengaruhi perjalanan menuju taman. Pada hari tertentu, salju yang turun cukup lebat bahkan dapat membuat perjalanan terasa jauh lebih lambat.
Karena itu, wisatawan sebaiknya memeriksa kondisi cuaca sebelum berangkat. Waktu perjalanan juga perlu diperhitungkan karena mengunjungi taman bukan aktivitas yang selesai hanya dalam beberapa menit. Pengunjung harus berjalan dari area akses menuju lokasi pengamatan dan kembali lagi setelah selesai.
Jigokudani Onsen: Apa yang Sebaiknya Dipakai Saat Berkunjung?
Pakaian sangat memengaruhi kenyamanan, terutama pada musim dingin. Lapisan pakaian lebih praktis daripada hanya menggunakan satu jaket tebal karena suhu tubuh dapat disesuaikan dengan kondisi perjalanan.
Beberapa perlengkapan yang berguna antara lain:
- Jaket musim dingin yang mampu menahan angin.
- Sepatu dengan sol yang memiliki daya cengkeram baik.
- Kaus kaki hangat.
- Sarung tangan.
- Penutup kepala atau kupluk.
- Syal untuk melindungi leher.
- Pakaian lapisan dalam yang mampu mempertahankan panas tubuh.
- Pelindung hujan atau salju jika kondisi cuaca mengharuskannya.
Sepatu menjadi salah satu bagian yang tidak sebaiknya disepelekan. Jalur bersalju dan licin dapat membuat perjalanan menjadi tidak nyaman apabila menggunakan alas kaki yang kurang sesuai.
Perbedaan Mengunjungi Jigokudani pada Musim Dingin dan Musim Lain
Musim dingin menawarkan pemandangan yang paling ikonik karena salju menjadi latar alami bagi kera yang berada di sumber air panas. Namun, konsekuensinya adalah perjalanan yang lebih dingin dan kemungkinan kondisi jalur yang licin.
Pada musim semi dan musim gugur, lanskap berubah mengikuti musim. Pepohonan memberikan warna yang berbeda, sementara suhu udara cenderung lebih bersahabat. Musim panas juga memiliki daya tarik tersendiri, meskipun pengalaman melihat kera di air panas mungkin tidak sama seperti ketika suhu turun.
Jigokudani Onsen: Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan?
Waktu kunjungan bergantung pada kondisi perjalanan dan seberapa lama wisatawan ingin mengamati satwa. Bagi pengunjung yang hanya ingin melihat kera dan mengambil beberapa foto, waktu di lokasi mungkin tidak terlalu lama.
Namun, perjalanan menuju taman perlu dimasukkan dalam perencanaan. Selain itu, wisatawan yang menginap di Yamanouchi atau kawasan pemandian air panas sekitar dapat mengalokasikan setengah hari untuk kunjungan agar tidak terburu-buru. Pilihan tersebut juga memberikan ruang apabila kondisi jalur atau cuaca membuat perjalanan berjalan lebih lambat.
Menggabungkan Kunjungan dengan Shibu Onsen
Salah satu cara paling praktis menikmati kawasan sekitar adalah menggabungkan kunjungan taman dengan Shibu Onsen. Kedua tempat tersebut memiliki karakter yang berbeda, sehingga perjalanan tidak terasa monoton.
Setelah berjalan di kawasan hutan dan mengamati kera, wisatawan dapat kembali ke area penginapan. Selanjutnya, waktu dapat digunakan untuk menikmati suasana kota kecil pemandian air panas, mencoba makanan lokal, atau beristirahat di ryokan.
Jigokudani Onsen: Pengalaman Menginap di Ryokan
Ryokan merupakan penginapan tradisional Jepang yang dapat memberikan pengalaman berbeda dari hotel modern. Beberapa penginapan di kawasan pemandian air panas memiliki kamar bergaya Jepang dengan tatami dan fasilitas mandi air panas.
Menginap di ryokan juga memungkinkan wisatawan menikmati ritme perjalanan yang lebih santai. Daripada menjadikan kunjungan sebagai perjalanan pulang-pergi yang terburu-buru, wisatawan dapat menghabiskan malam di kawasan pegunungan dan melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya pada hari berikutnya.
Makanan yang Bisa Dicoba di Sekitar Nagano
Nagano memiliki berbagai makanan khas yang menarik untuk dicoba setelah berkunjung ke kawasan pegunungan. Salah satu yang paling terkenal adalah soba. Prefektur ini memiliki tradisi produksi soba yang kuat sehingga hidangan tersebut mudah ditemukan di berbagai daerah.
Selain soba, apel Nagano juga terkenal di Jepang. Kondisi geografis dan iklim membuat wilayah ini menjadi salah satu daerah produksi apel penting di negara tersebut. Pengunjung dapat menemukan apel segar maupun berbagai produk olahannya di toko lokal.
Jigokudani Onsen: Mengapa Kawasan Ini Penting bagi Wisata Satwa?
Jigokudani menunjukkan bahwa wisata satwa tidak selalu harus dilakukan di tempat yang sepenuhnya terpisah dari habitat alami. Pengunjung dapat melihat perilaku hewan di lingkungan yang relatif alami selama aturan pengamatan dipatuhi.
Namun, model seperti ini membutuhkan pengelolaan yang baik. Jumlah wisatawan, perilaku pengunjung, pemberian makanan, serta kondisi habitat semuanya dapat memengaruhi satwa. Karena itu, keberadaan aturan bukan sekadar formalitas. Aturan tersebut membantu menjaga interaksi antara manusia dan kera tetap terkendali.
Tantangan Menjaga Habitat Kera Jepang
Keberadaan wisatawan memberikan manfaat ekonomi bagi kawasan sekitar, tetapi pada saat yang sama juga menciptakan tekanan. Semakin populer sebuah lokasi, semakin besar pula jumlah manusia yang datang untuk melihat satwa.
Pengelola perlu menjaga keseimbangan antara akses wisata dan perlindungan lingkungan. Pengunjung juga memiliki peran yang sama pentingnya. Dengan tidak memberi makan, tidak menyentuh satwa, dan tetap berada di area yang ditentukan, wisatawan membantu mengurangi gangguan terhadap kehidupan kera.
Jigokudani Onsen: Kesalahpahaman tentang “Berendam Bersama Kera”
Frasa yang menggambarkan manusia berendam bersama kera memang terdengar menarik, tetapi secara praktik pengalaman tersebut bukan seperti itu. Kolam yang menjadi ikon Jigokudani merupakan tempat kera, sedangkan manusia mengamati dari area yang disediakan.
Jadi, pengalaman yang sebenarnya adalah menyaksikan kera Jepang menggunakan sumber air panas dari dekat, kemudian menikmati pemandian air panas manusia di kawasan sekitar. Pemisahan tersebut penting agar ekspektasi wisatawan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Kapan Waktu Terbaik untuk Melihat Kera di Air Panas?
Jika tujuan utama adalah melihat pemandangan kera di tengah salju, musim dingin merupakan periode yang paling sesuai. Suhu rendah meningkatkan kemungkinan kera menggunakan sumber air panas sebagai tempat beristirahat dan menghangatkan tubuh.
Meski begitu, tidak ada jaminan bahwa setiap kunjungan akan menghasilkan adegan yang sama. Satwa bebas bergerak sesuai kebutuhan mereka. Karena itu, wisatawan perlu memahami bahwa taman tersebut bukan tempat pertunjukan dengan jadwal kemunculan hewan.
Jigokudani Onsen: Etika Wisatawan Saat Berada di Habitat Satwa
Etika menjadi bagian penting dari pengalaman berkunjung. Pengunjung sebaiknya mengikuti jalur yang ditentukan dan tidak memasuki area yang dibatasi. Selain itu, suara keras dan gerakan yang terlalu dekat dengan satwa sebaiknya dihindari.
Kebiasaan kecil juga dapat memberikan dampak besar. Tidak membuang sampah, tidak memberi makan, dan tidak mencoba menarik perhatian kera merupakan tindakan sederhana yang membantu menjaga kawasan tetap aman bagi manusia sekaligus satwa.
Jigokudani dalam Budaya Wisata Jepang
Kawasan ini juga memperlihatkan bagaimana lanskap alam dapat menjadi bagian penting dari pengalaman wisata Jepang. Sumber air panas, hutan pegunungan, salju, dan kehidupan satwa berpadu dalam satu kawasan yang relatif kecil.
Di sisi lain, pengalaman tersebut berbeda dari objek wisata seperti kuil atau distrik perkotaan. Tidak ada bangunan monumental yang menjadi pusat perhatian. Daya tariknya justru berasal dari kondisi alam dan perilaku hewan yang berlangsung secara alami.
Mengapa Foto Kera di Air Panas Begitu Ikonik?
Ada alasan visual yang membuat pemandangan ini mudah dikenali. Tubuh kera yang dikelilingi air panas terlihat kontras dengan salju putih dan pepohonan gelap di belakangnya. Uap yang keluar dari permukaan air semakin memperkuat kesan bahwa suhu lingkungan sangat rendah.
Namun, foto terbaik biasanya bukan hasil dari sekadar datang dan mengarahkan kamera. Kondisi cahaya, cuaca, posisi kera, jumlah satwa, serta sudut pandang semuanya berubah. Karena itu, fotografer perlu bersabar dan membiarkan situasi berkembang secara alami.
Apakah Jigokudani Cocok untuk Semua Wisatawan?
Kunjungan ini cukup menarik bagi pecinta alam, fotografi, satwa liar, maupun wisatawan yang ingin melihat sisi Jepang di luar kota besar. Namun, perjalanan berjalan kaki dan kondisi musim dingin perlu dipertimbangkan.
Bagi wisatawan yang memiliki keterbatasan dalam berjalan di jalur bersalju atau licin, perjalanan dapat terasa lebih berat. Karena itu, kondisi fisik, cuaca, dan perlengkapan harus dipertimbangkan sebelum berangkat.
Hal yang Perlu Dipahami Sebelum Berangkat
Beberapa hal sederhana dapat membuat perjalanan jauh lebih nyaman. Pertama, jangan menganggap foto kera di internet sebagai jaminan bahwa satwa akan melakukan pose yang sama. Kedua, periksa kondisi cuaca dan jalur sebelum perjalanan. Ketiga, gunakan alas kaki yang sesuai.
Selain itu, jangan lupa mengatur waktu perjalanan dari dan menuju kawasan penginapan atau stasiun. Wilayah pegunungan memiliki ritme transportasi yang berbeda dari pusat kota besar. Perencanaan yang terlalu padat justru dapat membuat wisatawan kehilangan waktu untuk menikmati kawasan.
Daya Tarik Utama yang Membuat Jigokudani Berbeda
Daya tarik kawasan ini terletak pada pertemuan beberapa unsur sekaligus. Ada lingkungan pegunungan, musim dingin, sumber air panas, serta populasi kera Jepang yang memiliki perilaku khas. Masing-masing unsur sebenarnya sudah menarik, tetapi ketika semuanya muncul dalam satu pemandangan, hasilnya menjadi jauh lebih mudah diingat.
Lebih jauh lagi, pengunjung dapat melihat perilaku satwa tanpa harus mengubahnya menjadi pertunjukan. Kera datang dan pergi sesuai kebutuhan mereka. Justru ketidakpastian itulah yang membuat pengamatan satwa terasa berbeda dari atraksi yang seluruh aktivitasnya sudah diatur.
Kesimpulan
Jigokudani merupakan salah satu destinasi alam Jepang yang memperlihatkan hubungan unik antara kondisi pegunungan, sumber air panas, dan kehidupan kera Jepang. Pemandangan kera yang berada di air hangat ketika salju turun menjadi alasan utama kawasan ini dikenal di berbagai negara.
Meski demikian, pengalaman tersebut sebaiknya tidak dipahami sebagai aktivitas manusia yang benar-benar mandi bersama hewan. Pengunjung datang untuk mengamati satwa dari area yang telah disediakan, sedangkan pengalaman mandi air panas bagi manusia dapat dilakukan di kawasan pemandian seperti Shibu Onsen. Dengan pakaian yang sesuai, perencanaan perjalanan yang realistis, serta kepatuhan terhadap aturan satwa liar, kunjungan ke kawasan Jigokudani dapat menjadi salah satu pengalaman paling khas ketika menjelajahi wilayah pegunungan Jepang.








Leave a Reply